Jumlah Wisatawan Pelaku Kejahatan Seksual Anak Meningkat

Jakarta, press3g.com- JumIah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia sampai dengan tahun 2017 berjumIah 9,25 juta orang atau meningkat 25,687 dibanding periode sama tahun sebelumnya. Kunjungan wisatawan ini memberikan kontribusi terhadap pemasukan negara sekitar 11 juta DoIIar Amerika. Namun daIam konteks periindungan anak ternyata sektor pariwisata juga bisa memberikan dampak negatif, terutama munculnya kekerasan dan eksploitasi seksual anak.

Menurut laporan dari berbagai media internasional, Indonesia merupakan salah satu negara tuiuan para pelaku kekerasan dan eksploitasi seksual anak yang menyaru sebagai wisatawan.

Atas situasi itu, Ahmad Sofian, Koordinator ECPAT (End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking of Children For Sexual Purposes) Indonesia dalam releasenya kepada wartawan di Jakarta, belum lama ini menyatakan,  “Praktek kekerasan dan eksploitasi seksual anak yang dilakukan sejumIah wisatawan berlangsung disejumlah destinasi wisata dan memanfaatkan fasiIitas pariwisata.

Ia menambahkan bahwa dari hasil penelitian dan assessment yang dilakukan oleh ECPAT Indonesia bersama Kementerian Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) tahun 2016-2017 di sejumlah tempat wisata yaitu Pulau Seribu (DKI Jakarta), Karang Asem (BaIi), Gunung Kidul (Yogyakarta), Garut (Jawa Barat), Bukit Tinggi (Sumatera Barat), Toba Samosir dan TeIuk Dalam (Sumatera Utara) menunjukkan bahwa seluruh destinasi wisata tersebut ditemukan praktek kekerasan dan eksploitasi seksual anak yang dilakukan oleh sejumlah wisatawan.

“Pada tahun 2015, ECPAT Indonesia juga meIakukan penelitian di tiga lokasi wisata yaitu Lombok (NTB), Kefamenahu (NTT) dan Jakarta Barat (DKI Jakarta). Di tiga lokasi yang diteliti ini pun ditemukan kasus-kasus kekerasan dan eksploitasi seksual anak yang dilakukan oleh wisatawan”, tambahnya.

Di samping kekerasan dan eksploitas seksual anak yang berlangsung di destinasi wisata, yang Iebih mengkhawatirkan lagi adalah masuknya sejumIah pedofiI ke destinasi wusata Indonesia. Menurut Direktorat Jenderal Imigrasi RI, sampai dengan September 2017, telah mendeportasi sebanyak 107 orang yang diduga sebagai pedofil dari berbagai bandara di Indonesia.

Atas dasar itu, ECPAT Indonesia melakukan anaIisis terhadap 14 kasus WNA yang diduga sebagai pedofil tahun 2017 yang dideportasi tersebut.

Dari data ECPAT, bahwa destinasi wisata Indonesia sangat rawan atas berbagai bentuk kejahatan seksual yang menimpa anak-anak. Oleh karena itu ECPAT Indonesia mendorong pemerintah dan stakeholder pariwisata untuk segara melakukan langkah-langkah pencegahan, perIindungan dan penyelematan destinasi wisata Indonesia dari para sejumlah wisatawan yang merusak reputasi destinasi wisata Indonesia. “Memperketat masuknya wisatawan yang berpotensi melakukan kekerasan seksual anak di berbagai bandara di Indonesia perlu segera dilakukan. Selain itu, edukasi kepada usaha wisata agar memperhatikan wisatawan yang melakukan kejahatan seksual pada anak.

“Masyarakat di destinasi wisata juga perlu dididik agar tidak terlalu mempercayakan anak-anak mereka bergauI dengan wisatawan,” Demikian disampaikan Koordinator ECPAT Indonesia.. (Osc)